Alhamdulillah ya rabb

Selagi ama masih nyinyia batanyo maka akan semakin banyak info yang ama dapatkan. Secara bahan yang perlu untuk diceritakan itu sangat banyak. Ama salut samo amak e. Daya ingatnya sungguh luar biasa. Jangankan cerita2 masa setelah pindah ke Kerinci, cerita saat kami belum lahir pun sangat mudah mengalir dalam suasana menggembirakan tentunya. Meski yang namanya suka duka adalah hal yang lumrah dalam hidup, namun ama berusaha untuk mengingat yang bahagia saja. Kalaupun tetap bisa mengingat kejadian yang menyedihkan semoga itu sebagai pembelajaran dalam kehidupan mendatang. Karena kehidupan ini merupakan sejarah yang akan selalu terulang, maka dari itu perlu untuk mengambil hikmah dari kejadian yang telah berlalu agar bisa menyikapinya lebih bijak lagi ketika hal yang sama berulang kembali. Meskipun emosional ama tetap lebih banyak berperan dalam menghadapi suatu kejadian, namun semoga tak begitu saja kalah dengan nafsu sendiri. Karena setelah sering ama dengar cerita ortu, ternyata sabar memang termasuk dalam hal yang sangat penting dalam kehidupan ini. Tak semua kekhilafan orang lain harus kita tumpahkan dengan emosi, dan semoga ketika kita melakukan kekhilafan pun orang tidak semena-mena ‘menghina kita’. Yup, ternyata kehidupan di Sulit Air masih menyisakan banyak kisah yang sayang untuk diabaikan begitu saja.

Ama mulai dengan rumah yang kami tempati saat masih di kampung. Sulit Air terkenal juga dengan sebutan nagari yang rumahnya bagus-bagus, namun tak di huni. Ungkapan ini ada benarnya juga karena memang kondisi di lapangan menunjukkan hal yang sama. Sangat mudah mencari rumah2 yang cukup bahkan sangat layak di huni namun tak berpenghuni, namun akan sangat bertolak belakang ketika konferensi berlangsung. Bahkan rumah gadang pun tak kan mampu juga menampung banyaknya penduduk yang bermigrasi sementara ini. hampir di semua keluarga mengalami hal yang sama. Karena keseharian warga nagari ini memang lebih suka untuk merantau di negeri orang, namun ketika jadwalnya pulang basamo selagi masih di beri kesempatan dan rezeki mereka akan tetap mengupayakan pulang kampung meskipun kondisi seperti di Jakarta adalah resiko tak terhindarkan akibat melimpahnya jumlah penduduk dan kendaraan yang datang. Kembali ke cerita rumah yang kami tempati selagi masih di kampung. Setelah nikah ternyata ortu mutusin tinggal di rumah orang lain bukan rumah sendiri. Padahal rumah nenek cukup luas dan rumah gadang suku kami juga tak berpenghuni, namun ama tak tau alasan pastinya kenapa tinggal di rumah orang lain di banding rumah sendiri. Mungkin alasan mandiri adalah hal yang paling sering muncul ketika pasutri lebih memilih tinggal jauh dari ortunya. Dan akhirnya daerah Lokuak lah yang menjadi pilihan ortu. Semua rumah yang kami huni ternyata tak lebih berputar dari sebelah kanan, sebelah kiri, dan depan mesjid. Sayang ama ingtanya hanya di rumah yang di depan mesjid, karena kedua rumah lainnya kami tempati saat ama masih balita. Jadi hanya dengar cerita ortu saja ama taunya bagaimana kehidupan di dua rumah lainnya. Rumah pertama yang kami tempati adalah sebelah kanan mesjid kalo kita lagi sholah di mesjid. Tepat depan rumah Risnal, teman kami. Di rumah papan ini ternyata ama apa sudah memulai bakat berkebunnya. Di rumah inilah pertama kali apa nanam buah pokat yang oleh pemilik rumah ternyata kami tak boleh mencicipinya satu pun. Dengar dari yang mencicipinya katanya enak banget pokatnya, mana buahnya besar-besar lagi. Lebih mirisnya ketika dahan pohon ini memasuki kawasan mesjid pemilik rumah malah marah-marah. Akhirnya pasrah deh. Hasil tanaman lain yang sangat menggembirakan adalah ubi kayu. Kata ortu ubinya sangat besar, di bikin kacang depo. Begitu keluar dari perapian langsung habis. habisnya ama dah nyerbu duluan dan teman  sekitar pun langsung ama kabarin nyicipinnya. Duh nikmatnya:-}. Hidup bermasyrakat emang tak bisa lepas dengan irinya orang lain terhadap kita. Melihat kami bercukupan dengan hasil alam yang cukup beraneka akhirnya pemilik rumah pun mengizinkan kami menempati rumah orang lain saja untuk di temapati (padahal waktu kami huni rumahnya tak memiliki satu tanaman pun yang bisa di panen). Sabar lebih baik dari pada cekcok. Akhirnya kami pun pindah ke rumah yang di sebelah kiri mesjid. Kata ortu rumah sekarang dulunya itu masih kayu dan rimbo. Sejak ortu tinggal disitu sedikit demi sedikit kelihatan kalo ternyata pekarangannya sangat luas. Kembali apa menyalurkan hobi bertanamnya. Tanam papaya serta mendam got yang ada di belakang rumah. Ama taunya di lintasan got ini kami sering bermain. Latihan manjat paling sering, kan tingkatan yang di buat cukup tinggi untuk ukuran kami, namun ternyata melompat-lompay itu mengasyikkan juga, terlebih ada luncuran di sebelahnya. Lagi-lagi karena hasutan orang lain dan menghindari konflik ortu pun pindah ke rumah yang di depan mesjid. Di rumah inilah sangat banyak kenangan yang ama ingat. Mulai dari hasil kebun yang suangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat banyak. Mulai dari tebu, aneka jenis pisang, rambutan, nangka, ubi, paraweh dan yang paling sering ingin kami cicip namun tak pernah menyicipnya yaitu lagi-lagi pokat. Mungkin karena buah ini termasuk mahal, jadi ketika nanamnya di rumah orang kami pun tidak diperbolehkan menikmatinya. Bikin puas buai yang di bakar lalu kasih santan masak adalah menu yang hanya sewaktu disinilah ama temukan. Coz sampe sekarang gad a lagi keluarga ama bikin menu enak ini. mungkin karena pake santan yang tentunya berlemak. Kan kalo bisa mengurangi menu yang pake santan kentalJ. Tanaman khas rempah pun juga di tanam. Daun pandan, kunyit, jahe, lengkuas, daun ruku2, kemumu, serai. Banyak deh. Bahkan apa pun sempat beternak ayam yang jumlahnya ratusan dan turut berperan dalam penyediaan dagiang ayam untuak baralek om jo ante ama. Sayang karena waktu tu lagi musim hujan apa pai berkemah dek Pembina di sekolahnyo dan amak dak ngarati tentang beternak akhirnya satu persatu ayam tu mati. Hingga tingga sakandang se lai ayam tu nyo. Bikin telur asin juga yang pernah terjadi di rumah ini. puuuuuuuuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaassssssssssssssssssssssss bana . Alhamdulillah ya Rohman ya Rohiim, ya Rozak. Kebiasaan makan bersama mulai dari makan pagi, makan siang hingga makan malam. Belajar bersama sehabis subuh dan magrib, mandi ke Luak, masuaknyo ula ka dalam rumah (kan di belakang rumah boleh di bilang rimbo), sensasi bahagia dengar buah durian jatuh dari ladang tetangga, teman TK ama yang tak tau apa2 tapi ia di bunuh, bakar jambu mente di ladang teman yang lokasinya di atas rumah hingga yang tak kalah senangnya lahirnya si bungsu. Duh banyak hal yang sangat berkesan. Alhmadulillah wahai Dzat yang telah memberikan semua ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s