Taplau purus ternyata ajang maksiat

Beach in PadangBerbicara tentang Taplau tentunya bukan hal yang asing bagi yang pernah ke Padang. Tapi lauik atau yang sering di sebut Taplau adalah wilayah primadona bagi yang ingin refresing di kota Padang. Murah meriah dan dekat pusat kota, mungkin itulah salah dua alasan kenapa tempat ini tak pernah sepi. Baik oleh pihak yang tak bertanggung jawab atopun kalangan yang sekedar berjalan-jalan saja. Meskipun pasar ikan kecilnya cukup menganggu penciuman tapi itu tak membuat banyak pasangan muda mudi nongkrong di sana. Buat warga Padang keberadaan Taplau sebagai tempat wisata keluarga berbanding lurus dengan keberadaanya sebagai tempat maksiat. Cerita ini tak pernah usai, meskipun 2 bulan yang lalu sempat berhenti sejenak akibat berita yang tak enak di dengar. Seolah bukan Taplau namanya kalau tidak dijadikan sebagai ajang maksiat, meskipun Bulan Ramadhan. Awalnya tak percaya waktu salah seorang teman bilang di pinggir taplau tenda biru yang biasa menghiasi masih ada. Soalnya sejak kasus pengeroyokan warga oleh pihak bersenjata itu jadi berita nasional jelas2 di bilang kalau tenda biru itu ga boleh berdiri dengan ukuran yang sekarang. Harus lebih gede. Dan bagi yang melanggar ada sanksinya.
Eh, ternyata hanya gertakan. Soalnya malam tadi biz buko basamo di pasar kami jalan2 dulu sebelum pulang. Soalnya lokasi rumah yang dekat pasar dan kalau langsung pulang ga seru dong. Sekali-kali ngumpul koq Cuma makan di pasar doang. Akhirnya setelah berembuk akhirnya kami sepakat pergi ke Jembatan Siti Nurbaya makan jagung bakar. Sebelumnya sempat pake acara kehilangan karena rute kami terbagi dua. Pas dah ketemuan lagi pake acara milih-milih tempat nongkrong akhirnya motor ga juga berhenti soalnya di pinggir jembatan rame dengan anak muda yang pada bawa pasangannya, akhirnya setelah lewat jembatan muter lagi nyari tempat nongkrong yang ga da anak mudanya biar bebas berekspresi dan akhirnya ketemu. Tapi bukan jagung bakar yang di pesan melainkan pisang bakar, Biar ga kelamaan nongkrong di sana ya Na. Siap makan terdengar adzan isya, wah siap2 pulang dong. Milih jalan pulang pun berembuk lagi dan kita sepakat lewat taplau. Kan taplau tempat wisata masyarakat, ga hanya pasangan gaje. Ternyata, na’udzubillah, masih jam 8 aja suasana di pinggir jalan udah rame dengan deretan motor yang terparkir di depan tenda-tenda. Parahnya makin ke arah Purus jumlah motor makin rame yang nongkrong tapi bukan di tenda biru melainkan kemah-kemah kecil yang dulu sempat rame di jual di Sawahan. Waduh, kalo yang ini baru malam tadi ama tau. Soalnya meskipun dah cukup sering main ke Taplau Purus tapi ama ga pernah liat kemah-kemah tu. Ya ea lah, secara diriku datang kesana pagi atao sore, ga pernah malam. Duh, di saat orang rame-rame datang ke mesjid, eh pasangan gaje malah bikin kita murka. CATAT, kita aja yang masih sering beri toleransi murka ngeliatnya. Tuh orang yang nyewain kemah bego ato gimana she! Kami aja yang jelas cewek-cewek semua ditawarin pula minggirin motor di sana. Awalnya ga ngeh, ngapain orang2 ne pada berebut nyuruh kami markir di sana. Akhirnya sadar, ternyata dekat parkiran itu berjejer tenda-tenda kecil yang buat anak pramuka pun ga bakal muat. TERLALU. Suasana malam yang gelap di tambah cahaya yang redup kurang kerjaan banget tuh orang yang nongkrong di sana. Luar biasa, itu di saat orang-orang masih rame datang di sana. Apalagi kalo makin larut. Kayaknya makin rame lagi motor yang nonggol tanpa pengendaranya.
Sedikit muter. Malam selasa nonton Chatting Dengan YM bintang tamunya keren. Sosok ayah yang dulu di gelari MM (Master Maksiat) menyadari betapa sayangnya malah mencelakakan keluarganya. Ia sadar bahwa rezeki yang dulunya ia berikan pada keluarganya bukan lah rezeki yang bernilai berkah, malah sebaliknya membuat keluarganya sudah disiapin tempat khusus di neraka sana akibat ulahnya. Padahal yang berbuat suami doang, tapi istri, anak, bahkan ibu pun bisa menjadi tamu neraka akibat ulah suami yang memberikan orang terdekatnya rezeki yang ga halal. Alhamdulillah, si om yang sekarang MMnya berganti menjadi Member of Masjid akhirnya sadar, meskipun rezeki yang sekarang ga sebanyak yang dulu tapi ia memberi makan keluarganya lewat harta yang ia bisa berikan lpj (laporan pertanggungjawabnnya) tanpa perlu rumit seperti dulu. Nah, gimana dengan ulah penyewa tenda-tenda kecil di pinggir taplau ini? Ga hanya suami yang berbuat, tapi istri dan anak pun dilibatkan dalam bisnis ini. Ya Robb, ne keluarga ga punya otak lagi ya buat nyari rezeki yang halal. Ko malah mendukung orang banyak bermaksiat.
Waktu kasus pemulukan yang dilakukan aparat bersenjata saat penertiban tempat gaje ini dilakuin sempat baca tulisan di Koran yang menceritakan kegelisahan hati orang tua kita melihat semakin maraknya tempat wisata menjadi ajang maksiat. Padahal razia2 udah sering dilakukan, seperti salah satu berita Padang Tv tadi yang melaporkan masih banyaknya yang terjerat akibat menyalahgunakan penggunaan tempat wisata. Miris juga, di satu sisi Sumbar begitu membanggakan Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah. Tapi kasus maksiat di tempat wisatanya tak pernah usai. Mau pergi ke tempat wisata mana pun di Sumbar kayaknya ga da yang bebas dari maksiat. Malah akhirnya beberapa tempat wisata di kenal sebagai tempat maksiat. Akhirnya kalo tidak punya referensi tentang daerah yang di tuju bisa bikin bête pas liat langsung kondisi di sana. Jadi bingung sendiri, masyarakat sepertinya mendukung gerakan maksiat missal deh di Ranah Minang, koq ga peka lagi ngeliat ulah anak muda sekarang. Ato orang tua pun ga peduli lagi dengan anaknya, sehingga perginya si anak ga perlu di control. Mo kemana, dengan siapa, mpe jam berapa. Duh…
Aparat pun sepertinya ga bisa berbuat banyak. Kan rahasia umum kalo tempat2 maksiat itu dibekingin orang dalam juga. Jadi, mo cerita sama siapa lagi ya penyakit masyarakat ini. Padahal bisa di laporin tuh ulah pelaku yang menggangu ketentraman masyarakat. Hukum adat ga jalan, hukum pemerintah ga jauh beda. So? Mungkin nunggu hukum dari Yang Maha Adil aja lagi yach..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s