Ngapain juga pada nolak kenaikan bbm!

Sejak pemerintah resmi ngumumin kenaikan BBM per 1 april besok, maka hampir semua surat kabar, siaran televisi or radio menyampaikan ketidaksetujuannya. Baik berupa komentar ringan, sedang n pedas di surat kabar or media informasi lainnya, ucapan langsung ataupun dalam bentuk symbol, n yang paling rame pendudukungnya tentunya  lewat demo or aksi. Mulai dari demo yang tertib sampe demo yang anarkis pun muncul menghiasi media massa di seluruh nusantara. Alasannya rata2 sama, “pemerintah ga peduli dengan nasib rakyt kecil’. Ga salah seh kalo mo demo, tapi setidaknya tau dengan apa yang hendak di capai dari demo tersebut, n kenapa mesti demo. Ini kan ga. Sampe hari ini demo kebanyakan demo yang dilakuin cenderung anarkis, n yang tak patut di tiru, sebelum mulai demo udah nyiapin bom Molotov menghadapi  pengawalan dari kepolisian. Ini mo demo ato bertempur seh? Ga da yang menang dan kalah kok dalam demo2 yang anarkis, malah bikin tambah rugi. Kasihan kan mereka2 yang harus di rawat di rumkit karena terluka or dilukai. Intinya ga berfaedah

Malah muncul pertanyaan, sebenarnya yang ngomong “pemerintah ga peduli dengan rakyat kecil” emang mereka peduli dengan penderitaan rakyat? Kalo peduli tunjukkin dong. Yang tampak kan lebih cenderung opportunities. Biar disebut keren  kan serunya rame2 turun ke jalan. Padahal kalo mau kritis seharusnya mendukung kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM ( red- subsidi di hapus). Karena selama ini yang cenderung menghabiskan uang Negara adalah kalangan dari pihak mampu bukan rakyat kecil. Hitung deh konsumsi bahan bakar orang kaya dengan orang miskin. Ga mungkin aja orang miskin lebih konsumtif dalam hal pemakaian bahan bakar, jadi cenderungnya Negara berinfak pada orang kaya dalam bentuk subsidi. Belum lagi yang secara illegal menjual minyak mintah ke Negara lain. Pada tau kan kalo bahan bakar di Indonesia itu termasuk yang paling murah, makanya muncul oknum yang menyelundupkan bahan bakar ini ke luar negeri tentunya dengan harga jual yang lebih tinggi di luar sana, dan lagi2 negara dirugikn n orang kaya lagi dong yang diuntungkan. Yang sanggup beli banyak kendaraan bermotor kan emang orang kaya. Keluar komplek aja harus pake mobil. Jalan kaki apa susahnya she, kan bisa tegur tetangga. Konsumtif, kayaknya emang hampir menjadi pola hidup sebagian besar rakyat Indonesia. Yang berasal dari kelas ekonomi menengah pun tak mau ketinggalan. Biar keren anak2nya dibeliin kendaraan semuanya. Akhirnya sang anak pun jarang di rumah, coz motor kan ada buat berpergian. Keluyuran dengan teman2. Ikutan adu tangkas di arena balap, tak sering jalan raya menjadi sarana tempat latihan. Bukan hal yang aneh kalo banyak kecelakaan juga di picu oleh anak2 yang merasa “bagak” ketik di jalan raya. Nyelip-nyelip di jalan akhirnya di bawa ke rumah sakit.

Banyak aspek yang perlu di kaji dalam menilai keputusan pemerintah. Kalo dari pemerintah alasannya karena banyak anggaran Negara yangharus disiapkan untuk mengsubsidi BBM (ga tau juga shaiih au laa), tapi dengan dinaikkannya harga bbm, lalu anggaran untuk subsidi diberikan pada masyarakat yang membutuhkan ( CATAT: yang membutuhkan bukan yang membantu) sepertinya itu lebih baik. Selama ini ama fikir pemerinth itu omdo dalam hal mengatasi kemiskinan, tapi ternyata ada benarnya juga koq. Yang ga bener tu orang yang diamanahi pemerintah untuk mensukseskan program ini. Cenderung memperkaya diri di atas miliknya orang lain. Contoh nyata, minggu lalu ama ikut menghadiri acara lomba menuju MTQ nasional. Tentunya para peserta di pilih dari tingkat paling kecil agar bisa semua warga yang berkemampuan bisa mengikuti. Yang ama ikuti itu tingkat kecamatan. Baru tingkat kecamatan aja alokasi dana yang diturunkan ga main2. Meskipun ga liat laporan keuanggannya, tapi dari  pantauan di lapangan tentu kita bisa memprediksi berapa banyak anggaran yang dihabiskan dan dalam hitungan kasar ama mencapai ratus juta. Ratus juta? Ga salah neh? Hitung aja, yang namanya acara perwakilan nama kampung tentu warga kampung tersebut ingin pamor kampungnya lebih dari yang lain. Mulai dari baju peserta, panitia, peserta kampung, konsumsinya n aneka atribut lainnya. Dan untuk perempuan biasanya bisa lebih banyak dari yang standar. Itu baru tingkat kecamatan perwakilan dari kampungnya ( ato untuk daerah kota kita bilang RT, belum RW n Kecamatan. Yang bikin paling miris, untuk acara2 seperti ini konsumsi selalu menjadi hal yang paling penting dan rawan untuk ditilap. Waktu ama di sana, ada oknum yang tega menjual snack para peserta ke pihak non peserta. Bagi banyak orang mungkin biasa aja kale “menyelamatkan” beberapa kotak snack or nasi untuk kita or teman kita. Tapi, eits tunggu dulu, semua itu kan di beli dengan uang Negara dan diperuntukkan untuk semua warga, lalu kenapa hanya yang terlibat dalam kepanitiaan yang boleh berpikiran seperti itu. Bukannya semua yang di beli tentunya dengan jumlah yang emang terdata. Ato jangan2 data yang ada malah di mark up sedemikian rupa dan parahnya kalo ada peserta yang tidak mendapatkan haknya. Itu baru tingkat kecil, jenis penyelewengan kekuasaan oleh orang kaya. Belum lagi pemakaian fasilitas Negara yang tidak sesuai dengan fungsinya. Dan masih banyak lagi kecurangan2 yang rata2 dilakukan oleh orang kaya. Bukan rakyat jelata. KEMANA PENDEMO YANG KATANYA PEDULI RAKYAT KECIL???

Dari segi polusi yang ditimbulkan semuanya pada tau kalo saat ini jumlah kendaraan yang lalu lalang itu melebihi kapasitas jalan raya. Jadi bakal susah nemuin jalan raya yang aman berjalan ria diatasnya, yang ada malah kudu hati2 setiap melintasi jalan raya. Kebayang kan berapa banykanya polusi yang dihasilkan? Itu baru dari kendaraan. Belum dari rumah tangga or industry yang lebih banyka lagi polusi yang dihasilkannya. Katanya go green? Nun yang empunya kendaraan aja bersepeda ria di negaranya, ngapain juga Cuma pemakai lebih sok dari pada produser.bahaya yang ditimbulkan dari polusi sudah sejak lama diketahui, tapi tetap aja bersemangat memproduksinya. Duh, negeriku…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s