Dek Takana Kampuang

Mesjid lokuakMeskipun hanya singkat waktu yang pernah dihabiskan dikampung halamanku, namaun menyimpan begitu banyakl kenanagan dalam memorial perjalanan hidupku. Begitu banyak peristiwa-peristiwa jenaka yang ku rasakan meskipun terkadang juga dihiasi deraian air mata. Maklum waktu kecil ama lumayan nakal jadi sering “berantem” dengan teman-teman. Ada nuansa “pertarungan” dalam lokal yang sering memacu semangatku untukdapat nilai terbaik. Sepakat sekali dengan metode motivasi yang telah diterapkan orangtua. Ketika momen ujian orangtua selalu mengiming-imingi kami semua dengan uang. Yup angka-angka delapan dan sembilan adalah angka-angka yang bisa membuat kami memiliki jumlah uang yang banyak dalam waktu singkat ( Momen kedua setelah hari Raya Idul Fitri yang membuat kami kaya mendadak). Dengan cara ‘menjual” angka tersebut pada orang tua. Metode tersebut tetap berlanjut sampai ama tamat SMA. Untuk kuliah momen tersebut tidak berlaku lagi karena ya, sekarang ama bukan anak-anak lagi yang harus menuntut ilmu karena keinginan orang tua. Ama yang sekarang adalah ama yang mulai menyadari bahwa madal hayah ( belajar seumur hidup) adalah salah satu kewajiban sebagai seorang muslim. Yang mana ada balasan pahala ketika kita melakukannya dan ada hukuman dosa ketika kita melalaikannya. Ada balasan yang lebih menjanjikan dari sekedar sejumlah uang yang didapat. Kembali ke kampuang, bahagia rasanya pernah tinggal dikampuang karena dengan tinggal disana ama merasakan berbagai kebahagiaan alami layaknya anak desa menghabiskan waktunya. Kebahagiaan bisa mandi di tangai meskipun dak pandai baranang. Hehe untuak kawan dakek jembatan titi baa ka baulang liak? 🙂 Bialah anak-anak awak e yang mangulangyo. (Ehmehm buat yang sudah punya momongan koq g pernah kasih kabar kalau dah merid). Untuak kawan-kawan yang dulu palala lo gai, kama awak rencana ka malala kalau basobok liak? Kajanjang saribu e lah yo sekalian malapeh taragak jo nagari tacinto. Spesial buat Pak Epi “Silfian Heri” terima kasih bayak atas segala ilmu, kasih sayang, motivasi dan kenangan-kenangan lainnya. Meski sekarang kata Si On apak dak kayak dulu lai tapi ama yakin banyak kawan-kawan yang tetap menganggap apak termasuk dalam kategori guru yang paling berjasa. Jazakallah khairan katsiron Pak.

Iklan

2 thoughts on “Dek Takana Kampuang

  1. Sejatinya, Sulit Air sebagai nagari yang makmur sudah punya website sendiri supaya bisa diakses oleh warga sulit air yang ada hampir ada diseantero jagad ini. seperti saya, kedua orang tua asli sulit air, tapi yang namanya pulang kampung, belum pernah sama sekali. padahal, saya pernah menjadi sekretaris IPPSA cabang Yogya. apalagi orang tua saya tinggal di sorong papua barat. Minimal dengan adanya website itu, orang seperti saya dapat mengenal kampung sendiri.

    • Kenapa tidak dimulai dari diri pribadi kita saja? Sulit Air itu yang maju orang rantaunya bukan yang dikampung. InsyaAllah tahun ini akan diadakan konfrensi dan disana bisa disampaikan usulnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s